Kamis, 14 Oktober 2010

Setelahku melompat dari gedung.....




Aku melihat pasangan yang kutahu saling mencintai di lantai 10 sedang bertengkar dan saling memukul...
Kulihat Peter yang biasanya kuat dan tabah sedang menangis di lt. 9...
Di lt.8 aku melihat Ah Mei memergoki tunangannya yang sedang bercinta diranjang dengan sahabatnya...

Di lt.7 aku melihat Dani sedang minum obat anti depresi...
Di lt.6 Heng yang pengangguran terus membeli 7 koran untuk mencari lowongan kerja tiap hari...
Di lt. 5 aku melihat Mr. Wong yang sangat dihormati publik sedang mencoba baju dalam istrinya...

Di lt.4 Rose sedang bertengkar hebat dengan pacarnya...
Di lt. 3 Kakek tua yang setiap hari berdoa agar akan ada seseorang yang datang mengunjunginya...

Di lt.2 Lily sedang memandangi foto suaminya yang sudah meninggal 6 bulan lalu...
Sebelum aku melompat dari gedung, kupikir aku orang yang paling malang, sekarang aku sadar bahwa setiap orang punya masalah dan kekuatirannya sendiri...
Setelah kulihat semuanya itu, aku tersadar bahwa ternyata keadaanku sebenarnya tidak begitu buruk dibandingkan mereka...
Kurasa setelah mereka melihatku sekarang, mungkin mereka merasa bahwa keadaan mereka sama sekali tidak buruk dibandingkanku...

"Bersyukurlah atas dirimu apa adanya... karena bila kamu membandingkan dengan orang lain, kamu akan terkejut dengan rahasia hidup mereka..."

Kapan Terakhir Kamu Berbicara Dengan Orang Tua-mu?


Suatu hari seorang teman saya pergi ke rumah orang-jompo atau lebih terkenal dengan sebutan panti-werdha bersama dengan teman-temannya. Kebiasaan ini mereka lakukan untuk lebih banyak mengenal bahwa akan lebih membahagiakan kalau kita bisa berbagi pada orang-2 yang kesepian dalam hidupnya. Ketika teman saya sedang berbicara dengan beberapa ibu-2 tua, tiba-2 mata teman saya tertumpu pada seorang opa tua yang duduk menyendiri sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong. Lalu sang teman mencoba mendekati opa itu dan mencoba mengajaknya berbicara. Perlahan tapi pasti sang opa akhirnya mau mengobrol dengannya sampai akhirnya si opa menceritakan kisah hidupnya.

Si opa memulai cerita tentang hidupnya sambil menghela napas panjang. Sejak masa muda saya menghabiskan waktu saya untuk terus mencari usaha yang baik untuk keluarga saya, khususnya untuk anak-anak yang sangat saya cintai. Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya dimana kami bisa tinggal dirumah yang sangat besar dengan segala fasilitas yang bagus. Demikian pula dengan anak-anak saya, mereka semua berhasil sekolah sampai keluar negeri dengan biaya yang tidak pernah saya batasi. Akhirnya mereka semua berhasil dalam sekolah, juga dalam usahanya dan juga dalam berkeluarga.

Tibalah dimana kami sebagai orangtua merasa sudah saatnya pensiun dan menuai hasil panen kami. Tiba-2 istri tercinta saya yang selalu setia menemani saya dari sejak saya memulai kehidupan ini meninggal dunia karena sakit yang sangat mendadak. Lalu sejak kematian istri saya tinggallah saya hanya dengan para pembantu kami karena anak-2 kami semua tidak ada yg mau menemani saya, karena mereka sudah mempunyai rumah yang juga besar. Hidup saya rasanya hilang, tiada lagi orang yang mau menemani saya setiap saat saya memerlukannya.

Tidak sebulan sekali anak-anak mau menjenguk saya ataupun memberi kabar melalui telepon. Lalu tiba-tiba anak sulung saya datang dan mengatakan, kalau dia akan menjual rumah karena selain tidak effisien juga toh saya dapat ikut tinggal dengannya. Dengan hati yang berbunga saya menyetujuinya karena toh saya juga tidak memerlukan rumah besar lagi yang tanpa ada orang-orang yang saya kasihi di dalamnya.

Setelah itu saya ikut dengan anak saya yang sulung. Tapi apa yang saya dapatkan? Setiap hari mereka sibuk sendiri-2 dan kalaupun mereka ada dirumah tak pernah sekalipun mereka mau menyapa saya. Semua keperluan saya pembantu yang memberi. Untunglah saya selalu hidup teratur dari muda maka meskipun sudah tua saya tidak pernah sakit-sakitan.

Lalu saya tinggal dirumah anak saya yang lain. Saya berharap kalau saya akan mendapatkan sukacita dalamnya, tapi rupanya tidak. Yang lebih menyakitkan semua alat-alat untuk saya pakai mereka ganti, mereka menyediakan semua peralatan dari plastik dengan alasan untuk keselamatan saya tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya memecahkan alat-alat mereka yang mahal-mahal itu. Setiap hari saya makan dan minum dari alat-alat plastik yang sama dengan yang mereka sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka. Setiap hari saya makan dan minum sambil mengucurkan airmata dan bertanya dimanakah hati nurani mereka?

Akhirnya saya tinggal dengan anak saya yang terkecil, anak yang dulu sangat saya kasihi melebihi yang lain karena dia dulu adalah seorang anak yang sangat memberikan kesukacitaan pada kami semua. Tapi apa yang saya dapatkan? Setelah beberapa lama saya tinggal disana, akhirnya anak saya dan istrinya mendatangi saya, lalu mengatakan bahwa mereka akan mengirim saya untuk tinggal di panti-jompo dengan alasan supaya saya punya teman untuk berkumpul, dan juga mereka berjanji akan selalu mengunjungi saya.

Sekarang sudah 2 tahun saya disini, tapi tidak sekalipun dari mereka yang datang untuk mengunjungi saya, apalagi membawakan makanan kesukaan saya.
Bukankah suatu haripun kita akan sama dengan mereka, tua dan kesepian?